Archive for category Inspiration

Surat dari Gaza

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Untuk saudaraku di Indonesia,

Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia, Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?

Disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis da’wah dari Jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.

Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah Haji asal GAZA sejak tahun 1987 Sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negeri kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian yah?. wah, pasti uang kalian sangat banyak yah?, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya, Subhanallah.
Read the rest of this entry »

Nafais Tsamarat: Menjaga Lisan dengan Akal

Sayyidina ‘Ali –Karramallahu wajhah– berkata:
Jika (seseorang) sempurna akalnya, maka ia akan sedikit bicaranya..
Bagi orang berakal, lisan (omongan)-nya berada di belakang akalnya. Namun bagi orang bodoh, akal (pikiran/hati)-nya berada di belakang lisannya…
Lisan itu bagaikan serigala, jika bisa selamat darinya, maka akan selamat..
Akal akan menjaga pengalaman dan sebaik-baik pengalamanmu adalah apa yang bisa memberimu pelajaran.

Happy Ramadhan Mubarak!!

Ramadan

Nafais Tsamrah: Cinta dan Dicintai itu Anugerah Allah

love-cloudAbu Darda’, sahabat Nabi berkata: Andai seseorang taat kepada Tuhannya, pasti Allah akan tunjukkan pengaruhnya kepada orang lain, meski ia ada di balik 7 pintu. Sebaliknya, andai dia durhaka, Allah pun akan tunjukkan pengaruhnya kepada orang lain, meski ia juga berada di balik 7 pintu. Cinta dan dicintai itu anugerah Allah. Dialah yg memberi dan Dia pulalah yg mencegahnya. Jika kita taat kepada-Nya, pasti kita akan dicintai orang lain.. (Aid al-Qarni, Ila al-Ladzina Asrafu.. 269)

Kepekaan Spiritual

remember-allahAllah Swt. berfirman (yang artinya): Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah…! (QS an-Nisa’ [4]: 136).

Di dalam tafsirnya, Ibn Katsir menyatakan, ayat ini tidak terkait dengan tahshîl al-hâshil (yakni agar mereka beriman; karena iman memang sudah ada pada orang-orang Mukmin), tetapi terkait dengan takmîl al-kâmil (yakni agar mereka menyempurnakan iman yang sudah ada).

Penafsiran ini tampaknya sesuai dengan sebuah sabda Nabi saw., “Jaddidû dînakum/îmânakum (Perbaruilah agama/iman kalian)!” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).

Pembaruan iman sangatlah penting bagi setiap Muslim, apalagi para aktivis dakwah. Pasalnya, sering karena kesibukan dalam menjalankan tugas-tugas dakwah, ditambah lagi dengan kesibukan mencari nafkah atau mengurus rumah tangga, para aktivis dakwah tidak sempat lagi ’mengurusi’ kalbunya. Tahu-tahu kalbunya sudah ’hitam pekat’; dipenuhi dengan noda akibat dosa-dosa kecil ataupun berbagai kelalaian yang tidak terasa sering ia lakukan.

Kata Imam al-Ghazali, kalbu itu ibarat cermin. Saat seseorang melakukan satu dosa/maksiat, maka satu noktah hitam menodai kalbunya. Semakin banyak dosa, semakin banyak noktah hitam itu menutupi kalbunya. Jika sudah tertutupi banyak noktah hitam, kalbu yang ibarat cermin itu tidak bisa lagi digunakan untuk bercermin; untuk ’mengaca diri’ dan mengevaluasi diri. Saat demikian, kepekaan spiritual biasanya akan lenyap dari dirinya. Jika sudah seperti itu, jangankan dosa kecil, apalagi sekadar berbuat makruh dan melakukan banyak hal mubah yang melalaikan, dosa besar sekalipun mungkin tidak lagi dianggap besar. Jangankan meninggalkan hal sunnah, meninggalkan kewajiban pun mungkin sudah dianggap biasa. Pasalnya, kepekaan kalbunya nyaris hilang; tidak lagi mampu mendeteksi dosa, apalagi dosa yang dianggap kecil.

Padahal, lihatlah kepekaan Abu Utsman an-Naisaburi. Suatu saat, pernah sandalnya putus dalam perjalanannya untuk shalat Jumat dan ia butuh waktu satu jam untuk memperbaikinya. Ia lalu berkata, “Sandal ini putus mungkin karena aku tidak mandi hari Jumat.”

Seorang generasi salaf juga pernah berkata, “Aku pernah menganggap sepele sesuap makanan (yang syubhat), lalu aku memakannya. Sekarang, aku seperti kembali ke empat puluh tahun yang lalu.”

Demikianlah. Maksiat itu tidak jarang melahirkan maksiat yang lain. Jika maksiat sering dikerjakan maka terjadilah akumulasi maksiat. Dosa-dosa kecil pun akhirnya menjadi besar.

Pengabaian perkara ini secara berlarut-larut tanpa penanganan serius sering menjadikan aktivis dakwah berkurang kadar ‘keimanan’ dan amal-amal batiniahnya, semisal ikhlas. Bahkan amaliah batin lainnya—seperti jujur, yakin, zuhud, tawakal, takut, tobat, berserah diri dan cinta kepada Allah SWT—mungkin juga hilang dari dirinya. Semua itu sering terjadi karena ia mengabaikan kalbunya.

Dalam kondisi demikian, boleh jadi seorang aktivis dakwah menjadi hanya banyak berkata-kata yang tidak berguna, makan secara berlebihan, berinteraksi dengan orang lain bukan demi kemaslahatan dakwah, banyak tidur dan bermalas-malasan, menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak ada faedahnya—meski mungkin tidak menjurus pada hal-hal yang haram atau makruh.

Akibat lanjutannya, nuansa spiritual hilang dari kehidupannya. Dakwahnya terjebak dalam rutinitas. Pengaruhnya tak lagi membekas. Kata-katanya kering dari nilai-nilai ruhiah. Retorikanya tak lagi menggugah, apalagi mendorong orang untuk segera menjemput hidayah dan ber-taqarrub kepada Allah. Bahkan tidak jarang, ghîrah dakwahnya menurun, dan himmah-nya pun tak lagi menyala-nyala; sedikit demi sedikit meredup hingga akhirnya padam.

Seorang aktivis dakwah yang mengalami hal-hal semacam ini tentu tidak boleh terlena dan berdiam diri. Ia harus segara bangkit dan segera memperbarui imannya.

Banyak sarana yang bisa digunakan untuk memperbarui iman. Sekadar contoh: ziarah kubur; mengunjungi orang-orang salih, orang-orang bertakwa, ulama terpercaya, para mujahid dan orang-orang ikhlas; membaca sekaligus menyelami sirah generasi salaf, para ahli ibadah, orang-orang zuhud, para mujahid, para pembela kebenaran, orang-orang sabar dan orang-orang bersyukur; meningkatkan porsi ibadah; menyendiri (ber-khalwat) setiap hari atau dari waktu ke waktu walaupun cuma sebentar; memperbanyak khatam al-Quran, berdoa, qiyâmul layl, bersedekah lebih banyak daripada sebelumnya; dsb.

Membaca biografi mujahid seperti Khalid bin al-Walid, misalnya, akan mampu membuat seorang aktivis dakwah meremehkan dunia, syahwat dan kenikmatannya yang bersifat sesaat; membuat dirinya selalu mencintai kematian, tentu di jalan kemuliaan.

Membaca biografi orang-orang zuhud dan salih akan menumbuhkan kezuhudan dan kesalihan dalam kalbunya. Membaca biografi para ahli ibadah akan mampu mendidik jiwa untuk gemar melakukan qiyâmul layl, shaum sunnah, zikir, berdoa, khusyuk dan menangis karena takut Allah SWT. Membaca biografi orang-orang yang gemar bertobat dapat menumbuhkan benih-benih tobat dalam kalbunya; juga membuka ‘kran-kran’ airmata penyesalan pada dirinya yang tadinya tidak kenal menangis karena takut Allah SWT.

Sarana lain untuk memperbarui iman ialah menyendiri (khalwat) dengan dirinya sendiri; di luar qiyâmul layl, zikir dan membaca al-Quran. Disebutkan dalam salah satu atsar bahwa orang berakal mempunyai empat waktu. Salah satunya ialah saat ia menyendiri dengan dirinya sendiri (khalwat).

Ber-khalwat sangat urgen bagi aktivis dakwah. Dengan ber-khalwat ia dapat ‘berduaan’ dengan Allah SWT, damai dan dekat dengan-Nya, serta merasakan lezatnya bermunajat kepada-Nya. Dengan ber-khalwat aktivis Islam juga dapat mengevaluasi dirinya. Ketika ber-khalwat ia ingat akan dosa-dosa sekaligus menumpahkan airmata penyesalan dan tobat kepada-Nya. Ia semakin takut kepada Allah SWT; malu, cinta dan tunduk pada kebesaran-Nya.

Semua upaya itu, insya Allah, akan mengembalikan kepekaan spiritual dalam diri seorang aktivis dakwah, karena setiap waktu imannya adalah iman yang selalu baru; iman yang semakin menghujam dalam kalbu. Wa mâ tawfîqî illâ billâh. [Arief B. Iskandar/al-waie Feb 09]

Add This!

Surat Ummu Taqi dari Gaza

surat-dari-gaza11

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Akhwat dan Ikhwan sekalian yang saya cintai, pada kesempatan ini saya ingin mengirimkan salam dari akhwat dan ikhwan di Gaza. Dengarlah situasi yang kami hadapi dan ceritakan ini pada semua orang yang anda kenal dan tidak anda kenal.

Ketika Zionis menyerang kami tanggal 27 Desember 2008, sebenarnya mereka tidak hanya menyerang Hamas, dan kaum muslimin di Gaza, tapi mereka menyerang umat Islam keseluruhan. Mereka menyerang Islam dengan harapan bahwa mereka akan dapat melemahkan dan akhirnya menghancurkan Islam dan umat Muhammad SAW.

Dan mereka tidak akan pernah berhenti di sini. Mereka ingin merampas Al Aqsa yang kita cintai, mereka ingin Tepi Barat dan percayalah kepadaku jika saya katakan bahwa mereka ingin seluruh Timur Tengah.

Namun mereka tidak akan pernah berhasil. Mereka tidak akan pernah bisa memadamkan cahaya Allah. Insya Allah.

Situasi yang kami hadapi ini sungguh-sungguh mencekam tetapi Iman kami masih kuat Alhamdulillah, walaupun kami tidak memiliki air, dan apabila memang ada, maka air itu sudah tercemar dan mengandung penyakit. Kami tidak memiliki uang untuk membeli air mineral. Apabila kita menemukan uang untuk membeli dari penjualnya maka sangat berbahaya bagi kami untuk bepergian untuk mendapat pasokan air yang baru. Kami tidak memiliki gas, dan kami sudah tidak memilikinya selama empat bulan terakhir. Kami memasak sedikit makanan yang kami masak dengan api yang kita telah pelajari untuk mempersiapkannya.

Semua pria disini telah kehilangan pekerjaannya. Saat ini mereka menghabiskan waktu di rumah. Suami saya dapat menghabiskan waktu sehari pergi dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk mendapatkan air yang sangat kami perlukan. Dia biasanya kembali dengan tangan hampa. Tidak ada sekolah, tidak ada bank dimana kita dapat menarik uang. Hanya sedikit rumah sakit yang buka bagi orang-orang yang terluka. Anda selalu menyadari risiko yang akan anda hadapi ketika anda keluar rumah dan ketika Anda berada dalam ruangan. Mereka mengenakan jam malam kepada kami antara jam 1-4 sore. Mereka bilang, kita dapat keluar dengan aman untuk mendapatkan kebutuhan kami, tapi itu adalah dusta. Mereka seringkali punya kesempatan untuk menambah syuhada ke dalam daftar mereka.

Sehari kami makan nasi dan keesokan harinya kami makan roti. Daging dan susu adalah barang mewah. Mereka menggunakan bahan kimia di daerah-daerah perbatasan. Mereka tidak hanya membunuh kami dengan peluru dan tank-tank dan pesawat-pesawat B52, tetapi juga mereka membunuh kami secara perlahan dengan membuat anak-anak kami kelaparan, yang menyebabkan munculnya penyakit yang sulit digambarkan yang disebabkan bahan kimia itu dan mereka tertawa atas penderitaan kami yang berkepanjangan dan tak tertahankan ini.

Tapi atas semua hal ini kami diberitahu bahwa orang-orang berdemonstrasi di seluruh dunia. MashAllah, kenyataan bahwa Anda pergi ke kedutaan-kedutaan besar dan meninggalkan rumah Anda benar-benar membuat kami merasa bahwa kami tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Tapi Anda dapat pulang pada malam hari dan mengunci pintu. Kami tidak dapat melakukan itu. Saya harus meninggalkan rumah saya di lantai dua setiap malam dan tinggal dengan kakak saya di lantai dasar. Karena seandainya terjadi serangan, kami bisa cepat-cepat keluar dari lantai dasar.

Tetapi umat bertanya-tanya di manakah tentara kaum Muslim? Di manakah kemenangan? Dan di manakah pemimpin sejati kita yang akan menyelamatkan kita dari kematian? Di manakah tentara Salahudin Ayubi? Jangan berharap pada PBB, mereka mengakui Israel sebagai sebuah Negara pada tahun 1949 dan mengunci nasib kami menjadi seperti pada hari ini. Jangan menoleh ke Amerika atau Inggris, bukankah mereka yang menyerbu ummat Islam di Irak dan Afghanistan? Panggilah para tentara di Mesir, Syria, Turki, Arab Saudi, dan Pakistan. Di manakah tentara Bangladesh, Negara-negara Teluk, Indonesia dan Libya? Apakah mereka cukup hanya menonton para wanita menjerit meminta pertolongan ketika musuh mengubur anak-anak kecil kami? Apakah kuping mereka tuli hingga tidak bisa mendengar jeritan saudaranya para ikhwan dan akhwat? Bukankah kami memiliki hak untuk makan dan minum dengan selamat dan aman. Bukankah kami juga punya hak untuk tertawa dan hidup dengan memiliki harapan?

Ya, kami lelah. Ketika kami mendengar suara roket dan bom dan melihat pesawat-pesawat yang terbang sangat rendah menghampiri gedung-gedung tempat kami berada, saya berteriak sementara anak-anak dan suami saya merasa putus harapan. Para ikhwan akan tahu seperti apa rasanya ketika merasa putus asa untuk bisa melindungi kehormatan dan kehidupan keluarga Anda. Ada sesuatu yang membunuh dia dari dalam. Kami sering bertanya-tanya kapan mereka akan menjual tanah kami dengan harga murah, apakah serangan ini akan merenggut nyawa seribu atau dua ribu orang. Kami masih menunggu dan melihat. Orang-orang Israel sudah merencanakan di tempat mana mereka akan buat pemukiman baru di Gaza. Seperti inilah keadaan kami.

Tapi dalam semua kejadian ini, tidak ada yang lain selain Allah SWT yang dapat menyelamatkan kami. Jangan lupakan kami karena saat ini Anda semua adalah yang kami miliki. Sedekah anda tidak kami terima, dan ketika mereka membuka perbatasan maka sedekah itu hanya diterima segelintir orang saja yang tidak tahu harus berbuat apa karena akan beresiko bagi hidup kami hanya untuk membeli makanan. Mereka akan membunuh siapapun, siapapun apakah dia adalah anak umur lima tahun yang sedang membawa makanan untuk keluarganya. Kami ingin hidup dari keringat kaum laki-laki kami, bukan dari keringat orang lain karena kami sedang sekarat.

Terus lakukan pekerjaan yang Allah perintahkan dan berdoalah untuk kemenangan yang akan segera datang dan menyelamatkan ummah di segala tempat. InshAllah.

Semoga Allah SWT membuat kami teguh dalam din ini, selama masa perjuangan ini dan selama masa kemudahan. Ya Allah, berilah kemenangan kepada kami segera dan segeralah tegakkan kembali Islam sebagai otoritas yang dengannya kami hidup, Ya Allah, kirimlah kepada kami anak-anak Salahudin, bala tentara Islam untuk menyelamatkan ummat Muhammad SAW dari penindasan di mana kita hidup. Ya Allah lindungilah anak-anak kami dan usirlah kaum zionis dari tanah kami. Ya Allah, hari ini saksikanlah pada hari ini kami telah meminta pertanggung jawaban para pemimpin kami, kami berdoa semoga Engkau segera mengembalikan kepada kami seorang pemimpin sejati, seorang Khalifah. Amin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Saudaramu Ummu Taqi

Jagalah Hati dengan Dzikrullah…

(sebuah ulasan berharga dari blog kawan …)

Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (az-Zumar [39]: 45)

Saya berharap ayat di atas tidak menyindir saya atau pun Anda. Sebab sangat jelas di dalam ayat tersebut, Allah swt. menjelaskan tentang kondisi hati orang-orang munafik.

Anda mungkin sering mendapati orang-orang yang menyebut nama Allah, di depan Anda, atau di hadapan orang banyak. Anda bisa perhatikan bagaimana mimik muka dan intonasi suaranya ketika dia mengucapkan nama Allah itu. Baik topik yang dibicarakan itu masalah-masalah agama maupun tidak. Lalu perhatikanlah pengaruh dia menyebutkan nama Allah itu terhadap diri dan hati Anda.

Anda mungkin sering melihat dan mendengarkan orang-orang yang menyebutkan nama Allah di hadapan orang banyak. Dari mimik muka dan intonasi suaranya ketika dia mengucapkan nama Allah itu, Anda akan bisa menilai tingkat percaya diri(pede)-nya ketika mengucapkan nama “Allah”.

Orang yang memiliki rasa percaya diri tinggi ketika mengucapkan suatu kata, maka ucapannya itu akan cepat meresap dan berpengaruh terhadap orang yang mendengarnya sehingga mereka memercayainya. Berbeda dengan orang yang berbicara dengan setumpuk keragu-raguan di hatinya, Anda sudah pasti akan meragukan apa yang dia ucapkan.

Mengutip pesan Syekh Abdullah Nasih Ulwan untuk para dai dan ulama, beliau berkata, “Ikutilah dai atau ulama yang kata-katanya membuat hatimu tenang dan pikiranmu menjadi tunduk memahami apa yang dia ucapkan.”

Kata-kata yang bisa memengaruhi pikiran dan perasaan orang lain adalah kata-kata yang diutarakan dengan jujur dari dalam hati sanubari dan disampaikan dengan penuh rasa percaya diri dan keyakinan penuh akan kebenaran apa yang diucapkannya.

Saya juga akan mengutip untuk Anda sebuah firman Allah yang cukup populer di kalangan ulama dan dai.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” (al-Anfaal [8]: 2)

Bagaimanakah pemahaman Anda tentang makna “…apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…”? Apakah Anda memahaminya sebagai hati yang merasa takut, kemudian menjauhi larangan-Nya dan melaksanakan perintah-perintah-Nya? Itu adalah pemahaman yang benar. Namun, saya akan mengajak Anda melakukan instrospeksi ke dalam diri kita masing-masing guna mencari “jalan lain” yang lebih sederhana dan gampang untuk memahami makna “hati yang bergetar” itu.

Apa yang Anda rasakan dalam hati Anda, ketika dari sekian banyak kata-kata dan kalimat yang Anda ucapkan di hadapan orang lain ada nama “Allah”? Baik ketika hanya bicara berduaan, atau ketika Anda menjadi seorang pembicara yang memberikan sambutan di hadapan umum dalam sebuah acara formal. Seberapa ‘pede’kah Anda mengucapkan nama “Allah” itu?

Bagi seorang ustadz atau ulama yang telah terbiasa berbicara tentang masalah agama, hal demikian tentu bukan menjadi masalah. Akan tetapi, nama “Allah” adalah satu-satunya kata yang memiliki “kekuatan gaib” bila pengucapannya digerakkan oleh keyakinan hati dan pikiran. Adanya “kekuatan gaib” dalam menyebutkan nama-Nya itu sama sekali tidak dipengaruhi oleh profesi orang yang mengucapkannya—apakah dia seorang ustadz, dai, ulama, dan sebagainya—atau seberapa biasa kita mengucapkannya. Namun, kekuatan itu terdapat pada seberapa yakinnya hati dan seberapa ‘pede’kah nama-Nya itu diucapkan.

Ada sebagian orang yang merasa ragu untuk menyebutkan nama “Allah” dalam perkataan dan pembicaraannya, kemudian menggantinya dengan “Tuhan,” istilah yang lebih umum dan “mewakili” Tuhan semua agama. Hatinya merasa “tidak enak” bahkan mungkin “muak” menyebutkan nama “Allah” secara tegas dan jelas di hadapan orang banyak sehingga dia menggantinya dengan “Tuhan.”

Saya berharap Anda bukan termasuk orang-orang yang demikian. Namun bila itu merupakan keadaan Anda selama ini, maka ayat yang saya kutip pada bagian awal bab ini secara tegas telah menyindir Anda.

Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (az-Zumar [39]: 45)

Saya ingin menyegarkan kembali pikiran Anda dengan kisah Da’tsur ketika dia ingin membunuh Rasulullah saw. Saat itu, Rasulullah saw. sedang sendirian menunggu keringnya pakaian yang beliau jemur. Tidak ada siapa pun dari para sahabat yang menemaninya waktu itu.

Tiba-tiba datang Da’tsur dengan pedang terhunus lalu mengalungkannya ke leher Rasulullah saw. Untuk membunuh beliau, dia tinggal menekan dan menggesek sedikit saja untuk memotong lehernya. Akan tetapi, kesombongan hati Da’tsur yang tidak yakin akan keberadaan Allah, membakar emosinya untuk melemparkan pertanyaan yang menantang dan mengejek Tuhannya Muhammad.

Dia bertanya, “Hai Muhammad, sekarang aku akan memotong lehermu! Siapa yang akan menolongmu?”

Hanya satu kata yang beliau ucapkan untuk menjawab pertanyaan Da’tsur yang kafir itu, “Allah!” jawab Rasulullah.

Lalu apa yang terjadi dengan Da’tsur setelah mendengar nama Allah disebutkan oleh Rasulullah saw.?

Keringat dingin pun mengalir dari seluruh pori-pori kulitnya. Tangannya bergetar, seluruh persendiannya lemas, tulang-tulangnya serasa dicabut dari tubuhnya sehingga tidak mempunyai tiang penyanggah untuk dapat berdiri tegak. Dia jatuh tersungkur ketakutan bersama pedangnya.

Keadaan pun berbalik. Sekarang, Rasulullah yang memegang pedang itu dan mengalungkannya ke leher Da’tsur. Beliau pun balik bertanya, “Kalau sekarang, siapakah yang akan menolong kamu?” Dengan tubuh yang terbujur menggigil ketakutan di tanah, air mata yang mengalir deras, dan keringat dingin bercucuran, dia menjawab dengan suara bergetar, “Tidak ada wahai Muhammad, kecuali kalau kau mau memaafkanku!”

Beliau pun memaafkannya. Peristiwa itu adalah pintu hidayah bagi Da’tsur. Dia termasuk orang yang beruntung karena Allah dan Rasulullah masih membuka pintu hidayah baginya. Sehingga saat itu juga, Da’tsur mengucapkan kalimat syahadat sebagai tanda keislamannya.

Rasulullah mengucapkan nama “Allah” dengan hati yang penuh dengan keyakinan dan kepasrahan total pada kemahakuasaan-Nya. Ucapan yang mengalir dari dasar hati beliau itu pun mampu melunakkan hati yang keras serta melumpuhkan tubuh yang kekar dan kuat.

Lalu bagaimana dengan kita, Anda?

Mohon Maaf Lahir Batin yaa…

Marhaban Ya Ramadhan…

Bismillah…
Ramadhan kan tiba …
Sudah siapkah hati kita, jiwa kita, fisik kita ,
untuk menyambut bulan yang penuh dengan kenikmatan itu
Bulan yang penuh dengan Rahmat, Maghfirah dari Allah…
Bulan tempat penempaan diri, self training, soul training
untuk menjadi yang lebih baik selanjutnya…

Mari kita jadikan pagi,siang,malam Ramadhan kita bermakna Ibadah
di sisi Allah Ta’ala….

Kalo Ramadhan tahun kemarin kita belum berhasil
maka mengapa kesempatan ini harus kita sia-siakan lagi
sebelum menyesal di akhir, lebih baik kita persiapkan di awal .. :D

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1429 H
Mohon Maaf Lahir Batin …
Kalo ada salah mohon dimaafkan

Semoga berhasil meraih predikat insan-insan bertaqwa…

Maknai hidup ini…(sedikit renungan)

Tuhan memberiku sebuah tugas,
yaitu membawa keong jalan-jalan.
Aku tak dapat jalan terlalu cepat,
keong sudah berusaha keras merangkak,
Setiap kali hanya beralih sedemikian
sedikit

Aku mendesak, menghardik, memarahinya,
Keong memandangku dengan pandangan
meminta-maaf,
Serasa berkata : “aku sudah berusaha
dengan segenap tenaga !”
Aku menariknya, menyeret, bahkan
menendangnya, keong terluka.
Ia mengucurkan keringat, nafas
tersengal-sengal, merangkak ke depan.
Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku
mengajak seekor keong berjalan-jalan.

Ya Tuhan! Mengapa ?
Langit sunyi-senyap

Biarkan saja keong merangkak didepan,
aku kesal di belakang.

Pelankan langkah, tenangkan hati….

Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga,
ternyata ini adalah sebuah taman bunga.
Aku rasakan hembusan sepoi angin,
ternyata angin malam demikian lembut.
Ada lagi! Aku dengar suara kicau
burung, suara dengung cacing.
Aku lihat langit penuh bintang
cemerlang. Oh?
Mengapa dulu tidak rasakan semua ini ?
Barulah aku teringat,
Mungkin aku telah salah menduga!

Ternyata Tuhan meminta keong
menuntunku jalan-jalan sehingga aku
dapat mamahami dan merasakan keindahan
taman ini yang tak pernah kualami waktu
aku berjalan sendiri dengan cepatnya.

“He’s here and with me for a reason”

Saat bertemu dengan orang
yang benar-benar engkau kasihi,
Haruslah berusaha memperoleh
kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat
dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman
sejati tak mudah ditemukan.

Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk bersyukur padanya.
Karena ialah yang mengubah hidupmu

Saat bertemu orang yang pernah kau
cintai,
Ingatlah dengan tersenyum untuk
berterima-kasih .
Karena ia lah orang yang membuatmu
lebih mengerti tentang kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kau
benci,
Sapalah dengan senyuman.
Karena ia membuatmu semakin teguh dan
kuat.

Saat bertemu orang yang pernah
mengkhianatimu,
Baik-baiklah berbincang dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini
engkau tak akan memahami hidup ini.

Saat bertemu orang yang pernah diam-
diam kau cintai,
Berkatilah dia.
Karena saat kau mencintainya, bukankah
berharap ia bahagia ?

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa
meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada
dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari
nostalgiamu

Saat bertemu orang yang pernah salah-
paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk
menjelaskannya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu
kesempatan itu saja untuk menjelaskan.

Saat bertemu orang yang saat ini
menemanimu seumur hidup,
Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia
mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan
kebahagiaan dan cinta sejati


* Hal yang bermakna adalah, bukan apa yang kita terima
Tetapi apa yang dapat kita berikan untuk orang lain